Sabtu, 06 Februari 2010

http://attra.ncat.org/attra-pub/soilborne.html

0 komentar
Kalo dalam istilah militer ada istilah air-borne maka dalam dunia pertanian memiliki istilah soil-borne yang digunakan untuk mengklasifikasikan penyebab penyakit tanaman yang menyebar melalui tanah, baik di permukaan maupun di dalam tanah.
Penyakit pada tanaman bisa terjadi karena tiga faktor: (1) host/inang yang sesuai untuk tempat hidup patogen (penyebab penyakit), (2) patogen (sesuatu yang menyebabkan penyakit, biasanya berupa makhluk hidup, (3) lingkungan yang sesuai untuk terjadinya interaksi antara inang dan patogen tersebut.

Terkadang kekurangan salah satu unsur hara bisa menyebabkan tanaman menunjukkan gejala disorder/ dikatakan sakit. Seperti manusia jika menderita kekurangan vitamin C misalnya bisa sariawan.

Penyakit tanaman dapat terjadi di alam liar tetapi jarang merajalela sehingga menngakibatkan masalah yang besar. Sebaliknya di lahan pertanian yang pada umumnya tanamannya seragam dalam jumlah banyak, maka baru terjadi epidemi yang mengakibatkan masalah bagi manusia, petani khususnya.

Di dalam setiap kubik tanah terdapat jutaan mikroba tanah, baik itu yang bisa merusak tanaman maupun mikroba pengurai yang mendegradasi senyawa kimia dalam tanah sehingga bisa diserap akar tanaman seperti bakteri penambat Nitrogen. Dalam tanah yang terdapat beragam jenis tanaman jarang ditemukan nematoda pemakan akar tanaman melainkan hanya sedikit saja. Tanah yang sering dibajak akan menyebabkan beragam jenis mikroba tanah terekspos sehingga mati. Hal ini akan mengakibatkan tanah terjadi penurunan fungsi keseimbangannya, dikatakan tanah kekurangan unsur hara, atau tanah sakit. Tanah yang sakit akan mengakibatkan tanaman kurang maksimal dalam memperoleh unsur hara yang dibutuhkan, selain itu mikroba parasit tanaman akan merajalela karena tidak ada keseimbangan dengan mikroba antagonisnya yang terapat di dalam tanah akibat tersekspos saat pengolahan tanah. Jadi tanah yang sakit bisa mengakibatkan tanaman sakit.

Para petani merespon hal ini dengan mengaplikasikan bahan kimia untuk mengatasi tanaman yang sakit. Kelihatannya memang sangat logis, tanaman sakit lantass "diobati" dengan cara meracuni patogen yang menyebabkan sakit, namun melupakan kondisi tanah yang sudah sakit. Banyak pestisida yang menyebabkan berkurangnya keragaman species mikroba dalam tanah karena tidak selektif. Mikroba aktif yang bermanfaat untuk mengendalikan mikroba "pemakan" tanaman ikut terbasmi. Lebih jauh lagi pemakain pestisida bisa menyebabkan terjadinya resistensi species patogen. Sehingga selanjutnya petani harus lebih sering melakukan penyemprotan dan menaikkan dosis untuk mengendalikan penyakit tanaman agar tidak merugikan. Memang boleh jadi tanaman terselamatkan, hasil panen bagus, namun biaya beralih ke pembelian pestisida yang semakin mahal.

Sampai kita memperbaiki kehidupa dalam tanah atau akan terus bergantung pada pestisida. Prinsip umumnya adalah menambha jumlah organisme yang bermanfaat di dalam tanah dan makanan yang mereka butuhkan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan keragaman mikroorganisme dalam tanah, semakin beragam maka kehidupan dalam tanah akan semakin stabil. Akan terjadi antagonisme, kompetisi, bahkan predasi, antar organisme dalam tanah, sehingga jamur, nematoda, bakteri patogen tanaman pupolasinya akan terkendali.

Rabu, 27 Januari 2010

Maaf..

0 komentar
Memaafkan, berarti mau melupakan kesalahan orang yang meminta maaf, bukan menerima kesalahan. Ikhlas bahwa kita pernah merasa sakit tanpa sadar atau disakiti dengan sengaja, lalu melupakanhal yang membuat sakit. Mudah sekali untuk meminta maaf, namun kenyataannya sulit untuk memaafkan. Dalam hati masih ada rasa harap supaya orang yang meminta maaf,  paling tidak merasakan sakit yang sama dengan yang kita rasakan, kalo bisa  lebih parah..demikiankah?

Rasa kecewa, sakit hati, karena kita terlalu mementingkan dan memikirkan kesenangan  diri sendiri, entah sadar atau tidak. Tanpa mau mencoba memahami keadaan orang lain. Terkadang kita berbuat baik, agar orang lain melihat bahwa diri kita baik, lalu diri kita dicap baik. Agar orang lain juga berbuat baik pada diri kita. Siapa sih yang mau disakiti?

Capaian tertinggi atas semua perbuatan adalah ikhlas. Tidak ada motivasi, tidak ada harapan dari perbuatan kita melainkan Allah 'azza wa jalla. Sama sekali tidak tebersit dalam hati niatan karena sesuatu yang lain. Seringkali hati ini khianat, kita masih mendahulukan ke-aku-an, kepentingan kita pribadi, atas perbuatan yang kita lakukan terhadap orang lain, bahkan saat kita menghadap-Nya sekalipun..

Ajaran-ajaran untuk berbuat baik kita dapati bertebaran dalam filsafat-filsafat barat, maupun ujar-ujar dalam kitab agama yang beragam macam. Mudah saja mengarang atau membuat-buat pedoman untuk berbuat baik dalam kehidupan di dunia, tidak perlu agama, orang menyebutnya kesadaran humanisme. Perbuatan kita didasarkan atas perasaan orang lain dan kesadaran kita, empati, atas orang lain. Yang menjadi  pertanyaan lantas cukupkah kita berbuat baik saja kepada sesama, menafikan segala hal tentang ketuhanan atas perbuatan kita? Benarkah, asal tidak menyakiti, tidak menindas orang lain lantas kita disebut orang baik?

Pikiran kita terjebak dalam kekinian. Padahal wahyu Allah subhanahu wa ta'ala, orientasinya selalu kehidupan pasca kematian. Bertebaran dalam Al-quran perumpamaan-perumpamaan adanya kehidupan sesudah kematian, inipun jika kita masih memiliki kepercayaan terhadap wahyu Allah. Namun jika tidak, rupanya waktu jualah yang akan menerangkan, seterang cahaya siang yang benderang, sehingga nampaklah yang hita itu hitam dan yang putih itu putih.

Selanjutnya, siapkah kita memafkan orang yang telah menyakiti kita, membuat kita tidak nyaman, tanpa syarat, ikhlas-seikhlasnya, bukan mengikhlas-ikhlaskan? mudah2an.. Wallahulmusta'an..


Masih jauh dari kebenaran..

terbentang rintang jurang curam, berlari mengejar kematian, setelah jumpa, mendadak ngeri, lalu mencaci maki diri sendiri, terbelenggu dalam sesuatu yang bernama: manusia

jalan lengang, tiba-tiba bising, riuh rendah sorak-sorai orang-orang yang terjebak dalam sesuatu bernama: manusia

tidak peduli tangis bayi menghadapi letusan peluru tajam, tangis itu tidak akan pernah berubah menjadi tawa, terkurung dalam sesuatu bernama: manusia


acuh melenggang setapak, tertawa-tawa, lalu menangis setelah sadar bahwa dirinya adalah: manusia

Jurang Lebar Antara Petani Pejuang dan "Penguasa" Ilmu-ilmu Pertanian

0 komentar
Kita hidup di dunia yang penuh dengan brand image, dunia citra. Penggambaran kehidupan yang sukses, yang berhasil, high prestige, valuable, yang dihargai di mata masyarakat adalah seperti yan terpampang di layar-layar stasiun televisi. Diwakili oleh artis-artis beneran sampe artis jadi-jadian, para anggota dewan "yang terhormat", para bisnismen yang bermobil mewah, para mahasiswa yang ber-laptop kemana-kemana, para agamawan yang ber-black berry bahkan cakap menampilkan presentasi versi powerpoint untuk menyampaikan ceramhanya. Semuanya tampil chick, wangi, modern, well educatated, tambah sedikit ke"ingris-ingrsisan" seperti penulis ini tentunya ^_^ v. Terpukau kita pada dunia image. Nggak ada tempat buat orang-orang ber-caping, tiada tempat buat kaum sarungan, alih-alih para pengembara jalanan raya kota-kota besar.

Sebuah medan magnet yang teramat kuat menarik kita ke dalam arus putaran globlal bahwa hidup enak itu harus seperti yang tergambar di layar-layar tv. Mau tidak mau cita-cita kita, planning yang kita rancang untuk anak-anak kita nantinya adalah ke arah sana. Jauh dari lumpur sawah dan terik matahari, alih-alih ruangan ber-AC dengan lantai keramik adem.

Ilmu-ilmu petanian mau tidak mau menjadi sesuatu yang mahal adanya. Tersimpan di gedung-gedung megah, di hardisk para ahlinya. Di sawah, petani menghadapi kenyataan antara makan dan nggak makan. Kalo panen bagus berarti paling tidak uang sekolah anak-anaknya bakal terjamin, dapur tetap mengebul, uang arisan terbayar, rekening listrik, pulsa hape. Namun kalamana panen nggak bagus karena banyak faktor yang menyebabkannya, belum lagi ngedropnya harga sampai titik rugi yang parah, maka ancaman hutang mau tudak mau harus dihadapi.

Menghadapi risiko yang riskan tersebut maka umumnya petani pejuang yang berlahan tidak lebih dari seperempat hektar, sangat hati-hati terhadap sesuatu hal yang baru dari luar yang akan diterapkannya pada tanaman di lahannya yang tidak seberapa itu. Maka kita dapati sedemikian sulit untuk mengubah paradigma seorang petani yang terbiasa menanam padi misalnya, untuk melaksanakan crop rotating padi-padi-palawija, atau padi-palawija-palawija. Bahkan lebih memilih sawahnya bera, memberi kesempatan pada rumput untuk hidup. Tanaman pangan seperti padi tidak akan "berbicara" banyak di lahan sempit.

Petani tidak mau menjadi korban teknologi atau produk baru dengan ancaman panen gagal dan ancaman ikutan lainnya. Maka umumnya petani baru mau menggunakan teknologi atau produk setelah ada petani lain yang sukses mengaplikasikan temuan baru tersebut.  Kecuali "penguasa" baik itu pemerintah maupun swasta yang dipercaya merekomendasikan teknologi serta produk baru itu dengan backup alat pemerintah, aparat, dan uang! Bercermin pada Inmas dan Bimas pada masa Orde Baru yang berhasil baik meski menyisakan dampak yang tidak baik, sesuatu yang wajar, sebab segala tindakan pasti akan ada yang memandang baik dan tidak sedikit pula yang memandang buruk, kecuali orang-orang yang hanya berdiam diri saja, dan hanya pandai berkomentar sana-sini, bertepuk tangan, ber "huuuu.....!" ria.

Lalu siapa yang akan mengambil peran membangun jembatan diatas jurang ilmu pengetahuan antara petani dan "penguasa" ilmu-ilmu pertanian??

satu kaki berpijak dalam lumpur
kaki lain menapak lantai keramik

satu tangan menggenggam handphone
tangan lain mengayun cangkul

asal ada uang, asal ada uang
yang penting bisa makan, bisa beli rumah, bisa beli mobil,

bisa masuk tivi
bisa ini, bisa itu

Senin, 25 Januari 2010

Nishob Zakat Hasil Pertanian

0 komentar
Kalo mau zakat hasil pertanian berapa nishobnya (batas terendah jumlah harta sehingga wajib dikeluarkan zakatnya), terus berapa yang harus dibayarkan, dijual dulu apa langsung hasil panennya?


Abu Said Al-Khudri r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Tidak wajib zakat emas perak yang kurang dari lima uqiyah (20 mitsqal), dan tidak wajib zakat unta yang kurang dari lima ekor, dan tidak wajib zakat padi, gandum dan kurma yang kurang dari lima wasaq. (Bukhari, Muslim).


1 Wasaq = 60 Sha’.      1 Sha’ = 2,5 kg.   1 Sha’ = 4 Mud.     1 Mud = 6 ons.     5 Wasaq = 300 Sha’.
5 Uqiyah = 20 Mitsqal = kurang lebih 12 pund (12 dinar ukon) kira-kira 96 gram emas.
Perak juga 20 mitsqal = 200 dirham.

Sedangkan menurut takaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia) 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian . Berdasarkan fatwa dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian adalah 300 sha’ x 3 kg = 900 kg = 9 kuintal.


“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” (HR. Muslim 2/673)

Misal: Seorang petani memiliki tanaman di sawah dengan air irigasi teknis (bukan mengandalkan air hujan/sawah tadah hujan) menghasilkan panen 1 ton = 1000 kg, maka zakat yang dibayarkan adalah 1000kg:20 atau 5% x 1000 kg = 50kg. Batas terendah (nishab) yang wajib dizakati dari hasil pertanian adalah 5 wasaq = 750kg = 7,5 kuintal. Jika panen kurang dari 7,5 kuintal maka tidak wajib dizakati. 

Jika hasil panen dijual dulu maka bukan zakat pertanian lagi namanya...


وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam -macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Surat Al An'am :141

(Mengenai zakat maal lebih lengkapnya silakan ke http://www.ekonomisyariat.com/zakat/serba-serbi-zakat-mal.html)

“Duhai pemilik hati, wahai pembolak balik jiwa, teguhkanlah hati dan jiwa kami untuk senantiasa berpegang teguh pada agama-Mu dan ketaatan di jalan-Mu”..

Jumat, 22 Januari 2010

Cara Bikin Link Nyolot ke Halaman Baru

0 komentar


Saat mencoba bikin link di postingan blogspot, ternyata defaultnya link tersebut saat diklik akan terbuka di halam web kita sendiri. Nah biar link tersebut saat diklik bisa terbuka nyolot di halaman baru tinggal nambahi sedikit code (baca: kode, pake logat indonesia ya).

Conto, saya bikin tulisan ini,
Nemu halaman donlod buku2 islam, monggo langsung ke TKP semoga bermanfaat.. (yang cetak tebal itu terdapat link, ga bisa bikin link? waduh.. sorot teks yang mau di link terus klik Link di toolbar, terus tulis atau paste alamat linkya)

Tersu terus pindah ke mode Edit HTML, nanti ada tampilan kayak gini: 
lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_GQi3-EGYF04/S1l0ovmEmsI/AAAAAAAAAGE/rl_vsO4nqlk/s1600-h/alquran.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_GQi3-EGYF04/S1l0ovmEmsI/AAAAAAAAAGE/rl_vsO4nqlk/s320/alquran.jpeg" /></a>
</div>
Nemu halaman donlod buku2 islam, monggo langsung ke <a href="http://faisalman.wordpress.com/ebook-islam-download-pdf/" target="”_New">TKP</a> semoga bermanfaat..


(Fokuskan ke tulisan yang tercetak tebal, nah yang warna merah itulah code yang harus ditambahkan di belakang alamat link, OK! Tulisan warna biru itu code HTML untuk link TKP).


Catatan: untuk newbie only, buat yang udah jago silakan ketawa2.

Download buku

0 komentar

Nemu halaman donlod buku2 islam, monggo langsung ke TKP semoga bermanfaat..

Minggu, 15 November 2009

Pertanian Berbasis Riset Aplikatif

1 komentar

Gambar (a) Cabe merah keriting Kusa yang ditanam menggunakan pupuk organik, di Mlarak, Ponorogo


Pada awalnya Pak Tam, akan mengganti tanaman cabenya yg telah habis dipanen, dengan padi karena sudah memasuki musim hujan. Namun atas saran Bayu (petani organik) tanaman cabe tersebut dibiarkannya dan dipupuk lagi menggunakan pupuk alamai cair hasil racikan Bayu, ditambah dengan pupuk organik padat. Bunga wali (bunga yang muncul setelah panen terakhir) terus dipelihara hingga setelah 3 bulan mulai berbuah lebat hingga cabang yang kecil tidak kuat menahnnya jika tidak di ikatkan pada ajir. Luar biasa kata Pak Tam, belum pernah ia melihat buah cabe yang bergerompol sedemikian lebat. Pupuk organik cair ini terus dikembangkan, Bayu sebagai petani muda mandiri berharap pupuk buatannya tidak kalah dengan pupuk2 buatan pabrik lainnya. Jika petani bisa bikin sendiri kenapa harus beli??

  
Gambar (b) Melon Action umur 65 HST (siap penen) dengan aplikasi pupuk cair organik, Mlarak, Ponorogo 

Melon Action merupakan jenis melon berdaging buah putih yang digemari petani karena panen buah bisa mencapai rata-rata  2 kg. Dengan penambahan aplikasi pupuk cair organik dan pupuk organik padat, melon yang ditanam Pak Cip di Mlarak ini bisa tumbuh normal setelah pada fase awal pertumbuhannya sempat terhambat karena bersamaan dengan serangan hama thrips (sejenis serangga pengisap cairan daun tanaman sehingga tanaman bisa terserang virus hingga daun menjadi keriting dan tanaman kerdil). Pak Cip sempat pesimis mengatakan bahwa sudah bisa panen pun masih untung, tidak mengharapkan hasil panen yang bagus. Namun setelah kami melihatnya di lahan, ternyata tanamannya sehat dan buahnya tidak mengecewakan (sudah di incar pembeli dengan harga 3.500 rupiah/kg), ini harga yang sangat tinggi. Biasanya hanya berkisar antara 2 ribu rupiah, bahkan tak jarang 1.500 rupiah. Melon merupakan salah satu komoditas andalan petani muda progresif, selain cabe, semangka, dan tomat. Tak jarang sehabis panen melon update motor bahkan mobil menjadi yang terbaru sudah merupakan hal yang lumrah.

Di Magetan pupuk ini saya ujicobakan pada tanaman timun Hercules, dan cauliflower Snow White. Tanaman baru berumur 1 minggu setelah tanam, hasil panen belum nampak. Tanaman tumbuh normal, menghadapi cekaman akhir musim kemarau yang suhunya memanas. Untuk selanjutnya ujicoba akan dilakukan pada pestisida cair organik, dengan riset sederhana, tidak terstandar lab.

 

airsawah Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template